Duka Alfrits, Duka Kita Semua


DUKA mendalam dirasakan oleh keluarga besar Basarnas, khususnya Kantor SAR Gorontalo. Betapa tidak, selesai operasi SAR gempa dan tsunami di Palu, rescuer Alfrits M Rottie kehilangan istri tercintanya, Devita Purnamasari Muhidin. Seperti diberitakan, tim SAR dukungan dari Kantor Pusat, Kantor SAR Gorontalo, Makassar, Kendari, Manado, Pontianak, Banjarmasin, ditarik kembali ke markas masing-masing hari Jumat (12/08/2018). Setelah itu hanya Kantor SAR Palu bersama potensi SAR yang tetap bekerja melanjutkan proses pencarian dan evakuasi korban. Kisah memilukan ini bermula ketika Alfrits mendapat tugas untuk berangkat ke Palu guna melaksanakan operasi SAR. Saat hendak berangkat, ada kebimbangan yang berkecamuk di hatinya. Antara siap, dan tidak. Siap, karena memang ini tugasnya. Tidak siap, karena ia merasa kasihan melihat kondisi istrinya. Vita, sapaan Devita yang baru ia nikahi 13 bulan itu, baru saja selesai operasi kandungan di RS Multazam Kota Gorontalo. Dimana janin berusia 3 bulan di kandungan Vita harus digugurkan karena dari hasil diagnosa tim medis menyimpulkan bahwa kondisi kesehatan Vita tidak memungkinkan untuk mengandung. Jika tidak, maka keselamatan nyawa Vita dan janin itu terancam. Pilihan yang sulit. Pilihan yang berat. Antara kehilangan calon anak sulung atau sang istri atau keduanya. Akhirnya, Senin (24/9/2018) operasi itupun dilaksanakan. Paska operasi, kondisi Vita berangsur-angsur membaik. Jumat (28/9/2018) siang, Vita memutuskan pulang. Selepas Magrib, terjadilah bencana gempa dan tsunami di Palu, Donggala, dan Sigi. Tak lama setelah berita itu, Alfrits mendapat telepon dari Kantor SAR Gorontalo. Alfrits dikonfirmasi terkait kesiapannya untuk melaksanakan tugas ke Palu, membantu Kantor SAR Palu bersama tim dari Kantor SAR lainnya.
Malam itu, kebimbangan terlihat jelas di raut wajahnya. Hal itu terbaca oleh sang istri yang kondisinya masih lemah. Di luar dugaan, Vita justru memberikan dorongan moral agar suami tercinta melaksanakan tugas kemanusiaan tersebut. Vita meyakinkan Alfrits, bahwa dia akan baik-baik saja bersama keluarganya di rumah. Di Palu, tenaga dan kemampuan Alfrits lebih dibutuhkan untuk menolong sesama. Selain itu, Vita juga berpesan agar mencari bayi atau anak-anak yang kehilangan orang tua dan keluarganya untuk dibawa pulang. Ia ingin mengadopsi anak itu.
Dorongan moral dari sang istri memantik semangat Alfrits. Dia bergegas, menyiapkan segala perlengkapan untuk operasi seperti umumnya para rescuer. Alfrits berangkat ke medan tugas. Selama 4 hari di Palu, Alfrits loss contact dengan sang istri karena kondisi di Palu kala itu memang lumpuh total. Termasuk, jaringan selular. Selama operasi SAR di Palu, Alfrits mendapat tugas di sektor Balaroa, Sigi, Petobo, Hotel Roa Roa, dan Hotel Mercury. Saat menangani Hotel Roa Roa, Direktur Operasional Basarnas, Brigjen TNI (Mar) Bambang Suryo Aji memerintahkan Alfrits sebagai komadan tim. Di sinilah dedikasi Alfrits terlihat. Ia memimpin tim yang berhasil mengevakuasi selamat seorang wanita di dalam reruntuhan beton atas nama Fitri Leonika Riani. Setelah 14 hari berlalu, ada instruksi bahwa dukungan tim SAR dari Kantor Pusat maupun Kantor SAR di sekitar Kantor SAR Palu untuk ditarik kembali ke markaasnya masing-masing. Alfrits pun merasa suka cita. Meski gagal mendapatkan bayi atau anak korban bencana untuk diadopsi, Alfrits tetap senang dan bersemangat untuk pulang melihat sang istri. Di benaknya, ia melihat Vita yang cantik menyambutnya dengan senyum merekah di bibirnya. Terbayang juga, rencana bulan madu ke Kota Kembang, Bandung, yang sudah mereka rencanakan jauh-jauh hari sebelumnya dapat terealisasi.

Sementara kondisi Vita, memburuk. Bahkan, sejak Senin (8/10/2018), Vita drop dan harus dilarikan ke RS Multazam dan akhirnya dirujuk ke RS Aloei Saboe (RSAS) Kota Gorontalo. Alfrits sengaja tidak diberitahu. Alasannya, sang istri yang melihat bagaimana kondisi Kota Palu yang hancur dan bagaimana para rescuer bertugas melalui televisi itu tidak ingin mengganggu konsentrasi sang suami. Ia tidak ingin suaminya yang sudah lelah, justru semakin terbebani jika diberitahu kondisinya. Bahkan, ketika Alfrit tiba di Gorontalo hari Jumat (12/10/2018) malam, sang istri justru menyarankan dia menginap dan istirahat di Kantor SAR Gorontalo terlebih dahulu. Baru esoknya, Sabtu (13/10/2018), Alfrits diminta langsung ke RSAS. Alfrits pun panik. Tiba-tiba saja perasaannya jatuh. Ia datang bersama orang tua Vita. Ia mendapati istrinya tergolek lemah di bangsal. Meski begitu, Vita masih menyunggingkan senyuman. Hanya semalam, Alfrits menunggui sang istri di rumah sakit. Minggu (14/10/2018) sore, Vita meminta Alfrits dan ayahnya untuk melaksanakan Shalat Ashar di RSAS. Bersamaan, Vita juga meminta adik laki-lakinya untuk mengaji di samping tempat tidurnya. Beberapa saat kemudian, Alfrits dan ayahnya kembali ke bangsal. Ia masih mendapati adik iparnya masih melantumkan ayat-ayat suci Al Quran. Ia melihat Vita terlelap. Saat itulah, hatinya kembali runtuh. Perasaannya membuncah. Alfrits mencoba memanggil dan menggoyang-goyang tubuh Vita, berusaha untuk membangunkannya. Namun tidak ada reaksi. Panik, ia menghubungi dokter. Dokter datang dan memeriksa Vita. Ternyata, Vita yang bekerja sebagai dosen di Politeknik Gorontalo dan memiliki tugas tambahan di kampusnya sebagai Kepala Sub-Bagian Pengembangan Kerjasama itu, sudah tiada. Perempuan tabah dan penuh pengertian yang juga penyanyi di Gorontalo Inovasi Choir bagian sopran, sebuah kelompok seni ternama di Gorontalo itu sudah pergi tuk selama-lamanya. Tangisan Alfrit tak terbendung. Air mata meleleh, memuntahkan duka yang begitu mendalam. Duka seorang rescuer. Duka Alfrits adalah duka kita semua,… (*)



Kategori General Artikel , General Berita .
Pengunggah : ratri dwiyani
26 October 10:00 WIB